Kembali ke Beranda
Cinta & Hubungan

Sarwendah Memilih Tidak Tumbang

A. Syahruni Aryanti
October 1, 2026  •  4 days ago
58 dibaca
Sarwendah Memilih Tidak Tumbang

Saya menulis ini bukan sebagai orang yang mengenal Sarwendah secara pribadi. Saya juga tidak berada di dalam rumah tangganya, tidak mendengar percakapan-percakapan yang terjadi ketika kamera dimatikan, dan tentu tidak mengetahui seluruh kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Ruben Onsu.

Saya melihatnya dari kejauhan.

Sebagai seorang perempuan.

Dan dari jarak itulah saya melihat satu hal yang menarik: Sarwendah seperti sedang mengatakan kepada dunia bahwa ia tidak mau tumbang.

Ada perempuan yang ketika rumah tangganya berakhir memilih menghilang sejenak dari keramaian. Ada yang membutuhkan waktu panjang untuk mengumpulkan kembali bagian-bagian dirinya yang tercecer.

Sarwendah memilih jalan yang berbeda.

Ia tetap muncul. Tetap bekerja. Tetap mengurus anak-anak. Tetap membangun kehidupannya di tengah perceraian yang kemudian berkembang menjadi persoalan pengasuhan, nafkah, rumah, utang, pengacara, pengadilan, dan komentar publik yang seperti tidak pernah selesai.

Tetapi saya tidak ingin menuliskannya sebagai kisah tentang perempuan yang sempurna.

Karena ketika saya melihat Sarwendah, saya tidak hanya melihat ketegaran.

Saya juga melihat kekerasan hati.

Pada beberapa kesempatan, saya melihat sikap yang bisa terbaca sebagai keras kepala. Ada kalanya responsnya terasa begitu tegas hingga sebagian orang mungkin menyebutnya arogan atau sombong. Ada perlawanan. Ada gestur seperti seseorang yang mengatakan: saya tidak akan diam hanya karena kalian meminta saya diam.

Apakah semuanya benar?

Belum tentu.

Apakah semua sikapnya tepat?

Belum tentu juga.

Tetapi justru di situlah ia menjadi manusia.

Sebab perempuan yang sedang mempertahankan dirinya tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan.

Kadang ia lembut.

Kadang ia keras.

Kadang ia memilih diam.

Dan pada suatu titik, ketika merasa terus didesak, ia melawan.

Dua orang, dua cerita

Pernikahan Ruben Onsu dan Sarwendah yang berlangsung lebih dari satu dekade akhirnya berakhir setelah Ruben mengajukan gugatan cerai pada 2024. Pengadilan mengabulkan perceraian tersebut. Dalam putusan perceraian itu, hak asuh anak tidak menjadi objek yang diputuskan.

Setelah perceraian, persoalan mereka ternyata tidak selesai.

Muncul perdebatan mengenai waktu Ruben bersama anak-anak. Kemudian nafkah dan biaya pendidikan. Persoalan rumah dan utang ikut menjadi pembicaraan. Kesepakatan yang sebelumnya dapat diselesaikan secara personal perlahan berubah menjadi perdebatan terbuka dan kemudian masuk ke ranah hukum.

Ruben mempunyai ceritanya.

Ia adalah seorang ayah yang melalui pihaknya mengatakan ingin mempunyai waktu yang jelas bersama anak-anaknya. Pihaknya mempertanyakan mekanisme pengeluaran bernilai besar setiap bulan dan meminta transparansi. Pada akhirnya ia memilih membawa persoalan pengasuhan ke pengadilan untuk memperoleh kepastian hukum.

Sebagai seorang ayah, Ruben mempunyai ruang untuk memperjuangkan hubungannya dengan anak-anak.

Tetapi Sarwendah juga mempunyai ceritanya.

Ia mengatakan tidak pernah melarang Ruben bertemu anak. Dalam kesehariannya, dialah yang hidup bersama anak-anak, menjalankan rutinitas mereka dan menghadapi kebutuhan yang terus berjalan terlepas dari apa pun yang sedang terjadi antara kedua orang tuanya.

Ketika tudingan mengenai pengasuhan kemudian diarahkan kepadanya, ia tidak memilih sepenuhnya diam.

Ia menjawab.

Ia membantah.

Ia melawan.

Dan semakin keras suara dari luar, semakin saya melihat Sarwendah seperti membangun tembok di sekeliling dirinya.

Ketika perempuan menjadi keras

Sebagai perempuan, bagian inilah yang justru membuat saya berhenti dan berpikir.

Kita sering mengagumi perempuan kuat, tetapi diam-diam mempunyai standar tentang bagaimana perempuan kuat seharusnya bersikap.

Kita ingin ia tegar, tetapi jangan terlalu keras.

Mandiri, tetapi jangan terlihat dominan.

Berani, tetapi jangan melawan terlalu jauh.

Membela dirinya, tetapi tetap harus terdengar manis.

Dan ketika seorang perempuan melewati garis imajiner itu, komentar berubah dengan cepat:

keras kepala.

arogan.

sombong.

Saya pun, ketika melihat beberapa sikap Sarwendah, pernah menangkap kesan seperti itu.

Tetapi kemudian saya bertanya kepada diri sendiri:

Apakah itu kesombongan, atau mekanisme bertahan?

Saya tidak tahu.

Dan mungkin kita memang tidak berhak memastikan jawabannya.

Sebab hanya Sarwendah yang mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Tetapi saya memahami satu hal: orang yang terlalu lama berada dalam posisi bertahan terkadang menjadi keras, bahkan ketika ancaman sebenarnya sudah tidak berada tepat di hadapannya.

Itu bukan pembenaran terhadap semua sikap.

Itu hanya pengingat bahwa manusia mempunyai cara berbeda dalam melindungi dirinya.

Serangan yang datang dari segala arah

Menjadi figur publik membuat persoalan pribadi tidak pernah benar-benar pribadi.

Perceraian dibicarakan.

Cara mengasuh anak dinilai.

Pengeluaran diperdebatkan.

Ekspresi wajah dianalisis.

Kalimat beberapa detik dipotong, diunggah kembali, lalu ribuan orang merasa mengetahui keseluruhan cerita.

Netizen kemudian membentuk pengadilan mereka sendiri.

Ada yang berdiri bersama Ruben.

Ada yang membela Sarwendah.

Ada pula yang menyerang keduanya.

Di tengah kebisingan itulah saya melihat Sarwendah tetap berdiri.

Bukan berdiri tanpa luka.

Bukan berdiri tanpa kesalahan.

Dan bukan berarti semua perlawanannya harus kita benarkan.

Tetapi ia memilih tidak menyerahkan definisi dirinya sepenuhnya kepada komentar orang lain.

Bagi saya, itulah bagian yang menarik.

Kuat tidak selalu terlihat indah

Selama ini kita sering membayangkan ketegaran perempuan dalam bentuk yang sangat romantis.

Perempuan kuat digambarkan menangis diam-diam, lalu menghapus air matanya dan tersenyum.

Padahal kehidupan tidak selalu seindah itu.

Ketegaran kadang berantakan.

Kadang emosional.

Kadang keras kepala.

Kadang membuat seseorang terlihat dingin.

Bahkan kadang orang yang sedang mempertahankan dirinya melakukan sesuatu yang kemudian ia sesali.

Kuat tidak berarti selalu benar.

Dan menurut saya, kita tidak perlu menjadikan Sarwendah perempuan sempurna agar dapat melihat kekuatan dalam perjalanannya.

Ia dapat salah.

Ruben dapat salah.

Keduanya dapat mempunyai alasan yang terasa benar dari tempat mereka masing-masing berdiri.

Sebuah rumah tangga yang berakhir setelah bertahun-tahun hampir tidak pernah sesederhana satu orang sepenuhnya korban dan seorang lainnya sepenuhnya penyebab.

Apalagi ada anak-anak di tengahnya.

Karena itu, bagi saya pertanyaan terpenting dari kisah ini bukan siapa yang akhirnya memenangkan perang opini.

Bukan pula siapa yang mendapatkan tepuk tangan paling banyak dari netizen.

Yang jauh lebih penting adalah apakah ketika seluruh proses ini selesai, anak-anak mereka masih dapat mengatakan:

“Ayahku tetap ayahku. Ibuku tetap ibuku. Dan aku tidak dipaksa kehilangan salah satunya.”

Sarwendah memilih tidak tumbang

Saya kembali melihat Sarwendah sebagai seorang perempuan.

Bukan selebritas.

Bukan mantan istri Ruben Onsu.

Bukan sosok yang sedang diperdebatkan jutaan orang.

Hanya seorang perempuan yang kehidupannya berubah, tetapi masih harus bangun keesokan paginya dan menjalani kehidupan itu.

Saya melihat ketegaran.

Saya melihat perlawanan.

Saya juga melihat kekerasan hati.

Bahkan sesekali saya menangkap sesuatu yang mungkin dapat dibaca sebagai kesombongan.

Tetapi anehnya, saya tidak melihat semua itu semata-mata sebagai kelemahan.

Saya melihat seorang perempuan yang sedang berusaha mempertahankan ruangnya ketika begitu banyak suara dari luar mencoba mendefinisikan siapa dirinya.

Mungkin caranya tidak selalu kita sukai.

Mungkin keputusannya tidak selalu kita sepakati.

Tetapi bukankah demikian manusia?

Kita bertahan dengan cara yang kita mampu.

Ada yang menangis.

Ada yang pergi.

Ada yang memilih diam.

Ada pula yang berdiri, menatap balik orang-orang yang menyerangnya, lalu mengatakan:

saya masih di sini.

Dan barangkali itulah Sarwendah hari ini.

Bukan perempuan yang tidak pernah terluka.

Bukan perempuan yang selalu benar.

Bukan pula perempuan yang tidak pernah takut.

Tetapi perempuan yang, setidaknya dari tempat saya melihatnya, telah mengambil sebuah keputusan:

ia boleh terluka, tetapi ia memilih tidak tumbang.

Simpan